Jurnal Ramadhan-2 (Abang Syakir; Anak Siakkaan)

Mungkin di antara teman-teman pembaca ada yang penasaran dengan nama blog ini, kok namanya mytriosya.family.blog ya kan? Hehe..

Pengambilan namanya nggak muluk-muluk, sih…gabungan dari kata “my (Eng.kepunyaan saya)-trio (tiga)-sya (Syakir.Syamil.Sameeha)”, Nama ketiga anak-anak kami, sumber inspirasi dan energi. Jadi, karena blog ini terinspirasi dari nama anak-anak, saya mau nulis sedikit tentang abang Syakir, abang Syamil dan adek Sameeha. Untuk yang pertama mengenai abang Syakir dulu deh, dia kan anak pertama yang memang pada beberapa hal mesti diutamakan😄 soalnya sekarang Syakir udah pinter protes, lho…

Abang Syakir lahir pada musim asap kala itu, lagi parah-parahnya asap mengepung udara provinsi Riau, pada 9 Oktober 2015. Usianya sekarang jelang ke-6 tahun, in syaa Allah tahun ini masuk SD. Ini anak posturnya tinggi besar, kalau orang baru pertama kali ketemu banyak yang menyangka kalau Syakir sudah kelas 3 SD. Beliin dia pakaian aja ukurannya sudah pakai ukuran anak usia kelas 3 SD juga. Sebentar lagi tingginya mungkin akan mengalahkan tinggi Papanya.

Syakir, abang yang berhati lembut, jadi dia memang rada cengeng, mudah menangis, dan mudah merasa iba pada orang lain, terutama pada Mama dan adek-adeknya. Dia tampil jadi abang yang berusaha melindungi Mama dan adek-adeknya sekuat yang ia bisa, mungkin sudah naluri anak lelaki pertama begitu meski sebenarnya dia juga takut.

Pernah suatu ketika saya sedang memijit-mijit kaki yang pegal sehabis kerja, dia dengan sigap ikut memijit kakiku, “Sudah gimana rasa Mama, sudah enakan?” Tanyanya sambil terus memijit kakiku. Tenaganya belumlah kuat, pijitannya tidak terasa, tapi cinta dan perhatiannya yang luar biasa membuat semua capek dan pegal hilang tak bersisa. Ma syaa Allah. (BERSAMBUNG)

Jurnal Ramadhan-1 : (Ramadhan tahun kedua dengan covid-19)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Pertengahan Maret 2020, suasana kelas mendadak riuh saat saya mulai membuka kelas; bukan soal materi atau yang terkait pelajaran hari itu yang jadi biang kegaduhan para Mahasantri/ah itu. (Mahasantri:Mahasiswa tahun pertama yang wajib nyantri di Ma’had Jami’ah IAIN Padangsidimpuan).

“Ustadzah, kapan kami dipulangkan Ustadzah? di berbagai media dan berita mulut ke mulut katanya corona makin gawat, Ustadzah. Dibilangkan orang Ustadzah-lah sama pak Rektor biar kami belajar dari rumah aja.” Rengek salah satu mahasantri yang bertugas sebagai opener keriuhan, lalu disambut berjama’ah oleh mahasantri yang lain, suara mereka sahut-menyahut memenuhi ruang kelas bahasa Arab sore itu.

“Siapalah Ustadzah ni baya da, cuma remah-remah rengginang dalam kaleng Khong Guan.” Celetukku sembari terkekeh. “Ustadzah nggak punya akses untuk menyampaikan perihal ini ke rektor. Kita tunggu saja hasil putusan rapat pimpinan institusi ya. Kabarnya sore ini lagi ada rapim membahas isu ini. “Sahutku menenangkan. “Terus, kalau nanti hasilnya memang harus belajar daring dari rumah, mudah-mudahan membawa kebaikan buat kita bersama dan begitu juga sebaliknya; jika kalian tetap tinggal di asrama dan belajar di kampus dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat, termasuk tidak boleh menerima kunjungan keluarga, Ustadzah harap kalian semua bisa berbesar hati menerimanya.” Ucapku melanjutkan.

“Yaaaaaa….” Serempak sekali mereka mengucapkannya dengan ekspresi wajah dan nada suara yang kecewa. “Kita harus patuh sama kebijakan pemerintah kitalah, Ustadzah. Kalau kata presiden, belajar dan bekerja dari rumah, kami gitu jugalah, Zah… Corona ni bukan main-main, lho Zah.. kalau kami kena 1 orang saja di asrama, bakal menular ke semuanya. Nggak akan sanggup pihak ma’had dan institusi meng-handle kami semua dalam kondisi pandemi begini. Tapi, kalau kami di rumah, setidaknya setiap orang tua pasti akan menjaga anaknya masing-masing biar nggak keluyuran keluar rumah.” Seorang mahasantriah lanjut menjelaskan, diikuti oleh puluhan anggukan kepala dari teman-teman sekelasnya.

Hingga akhirnya, jelang Magrib kala itu, hasil putusan rapat didapat, para mahasantri akan kembali ke rumah, sistem belajar ma’had dipindah ke smartphone. Tak ada lagi canda tawa, diskusi dan sapaan-sapaan akrab lainnya saat bertemu di kelas dan di lingkungan kampus. Semua beralih ke smartphone; sisa materi dilanjutkan melalui hp, begitu juga saat menyapa dan bercanda. Serba virtual, melalui layar dunia maya.

Sepekan dua pekan belajar daring masih terasa asik, pekan ketiga mereka mulai mengeluh minta balik, suasana asrama dan kehangatan kelas mulai menyiksa rindu, lengkap dengan berbagai curhatan pilu, begitu banyak rintangan dan tantangan selama belajar di rumah yang bikin bibir kelu. Gimana nggak, saat khusuk menatap layar mendengar penjelasan dosen, tiba-tiba emak teriak menyuruh nyapu, belum lagi masalah sinyal yang tidak menentu. Namun, surat-surat edaran rektor berikutnya, isinya selalu memperpanjang belajar dan bekerja dari rumah karena wabah corona 19 yang makin merajalela. Sampai saat ini kita sudah kuliah daring selama 3 semester meski tanpa perlu menunggu surat edaran lagi, karena sudah ketebak isinya apa. Namun, khusus untuk mahasiswa tahun pertama, tetap diwajibkan nyantri selama setahun di ma’had jami’ah, benar-benar full di asrama selama tahun akademik berjalan; tak boleh pulang ke rumah saat liburan, tak juga boleh dapat kunjungan. Antara sedih dan kasihan, sih ngeliatnya.

Jelang penghujung bulan April 2020 menjadi Ramadhan pertama kita bersama corona. Masjid-masjid sepi kehilangan jama’ah, bukan karena jama’ahnya pada malas semua, tapi karena ada larangan berkerumun dari pemerintah. Bahkan, di sebagian besar tempat di dunia, shalat hari raya pun dilaksanakan di rumah masing-masing. Suasana sunyi dan sepi Ramadhan kala itu semakin terasa hawanya bagi kami sekeluarga, terutama setelah seluruh mahasantri kembali ke rumah. Ma’had jami’ah dan kampus IAIN Padangsidimpuan adalah lingkungan rumah kami, jika kampus dan ma’had sunyi dan sepi, maka sebenarnya yang paling kesepian adalah kami sekeluarga dan syaikh Hamdi, tetangga sebelah dari Luxor, Mesir, dan juga Ustaz Rizal sekeluarga sebagai mudir ma’had, serta keluarga ustaz Purnama dan keluarga Miss Liah. Syukurnya, serombongan monyet dan kera dari hutan belakang suka berkunjung ke halaman rumah sekadar “say hello” mungkin, atau kalau beruntung mereka bisa membawa singkong hasil cabutannya dari pohon-pohon singkong yang saya tanam di pekarangan. Kehadiran mereka cukuplah jadi hiburan saat itu, macam dapat tontonan topeng monyet gratis, setiap hari lagi.

Ramadhan 1442 H/2021 M. Corona masih ada, ia masih berusaha mencari celah dan kesempatan masuk ke tubuh-tubuh manusia, bertarung melawan imun kita;menang atau kalah. Meski corona masih membuntuti segala aktifitas kita, kini orang-orang mulai menerapkan prokes dalam melaksanakan berbagai kegiatan, begitu juga setiap ke masjid, prokes jangan diabaikan agar tetap dapat memakmurkan masjid dan menyemarakkan Ramadhan seperti tahun-tahun sebelum corona menyerang manusia. Semoga tidak ada yang terpapar saat pelaksanaan ibadah shalat berjama’ah dan juga ‘itikaf. Tetap jaga kesehatan, teman-teman, kita kuatkan imun dan iman agar tetap aman 😃 semoga corona sudah hilang pada Ramadhan tahun depan. Aaamiin ya Allaah, ya Rahmaan.

Design a site like this with WordPress.com
Get started